Gerilya Sahur Istri Gubernur: Dari Rumah Sakit hingga Pasar, Mengantar Cinta dalam Seporsi Nasi

Minggu, 16 Maret 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dini hari masih dipenuhi kegelapan saat Marlina, istri Gubernur Aceh, melangkah keluar dari Meuligoe Gubernur. Waktu menunjukkan pukul tiga pagi, Minggu 16 Maret, ketika kebanyakan orang masih terlelap dalam hangatnya selimut, ia justru bergerak menuju sunyi kota, membawa misi yang tak sekadar memberi, tapi juga merangkul.

Di belakangnya, satu mobil boks penuh nasi kotak siap saji dan sebuah pikap terbuka berisi paket kebutuhan dapur telah siap mengarungi sepi. Ditemani ajudan perempuannya, serta sejumlah petugas keamanan yang setia mengawal, Marlina memulai perjalanan sahurnya dengan tujuan pertama: Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA).

Langkahnya ringan, tapi hatinya sarat dengan empati. Dengan kedua tangannya, Marlina menenteng susunan nasi kotak, membagikannya satu per satu kepada keluarga pasien yang berjaga di lorong rumah sakit. Senyum mereka yang awalnya letih perlahan merekah, seiring dengan suapan nasi sahur yang hadir tanpa diduga.

Para tenaga kesehatan yang masih berjaga malam itu pun ikut menerima. Tidak ada seremoni, tidak ada pejabat rumah sakit yang menyambut. Marlina tidak ingin mengganggu waktu istirahat siapa pun—ia hanya ingin memberi.

Para pengawalnya, yang biasanya menjaga dari jauh, kini ikut turun tangan, menurunkan tumpukan nasi kotak dengan cekatan.

Setelah semua orang yang ditemuinya di lorong-Lorong RSUDZA mendapat bagian, Marlina kembali ke dalam mobilnya. Kota Banda Aceh masih lengang, lampu jalan remang-remang menerangi aspal yang dingin. Namun, perjalanan masih panjang.

Mobil yang ditumpanginya meluncur ke Jalan Pocut Baren, tempat tukang becak menepi, menunggu rezeki esok pagi. Marlina turun, membawa kembali nasi kotak dan paket sembako.

“Pat tinggai, Bapak? Nyoe na kamoe ba bu sahur,” ujarnya ramah, sembari menanyakan tempat tinggal para tukang becak sebelum menyerahkan makanan.

Para penerima tampak terkejut. Dalam dinginnya pagi, tak ada yang menyangka sosok yang mereka kenal hanya lewat layar media kini berdiri di hadapan mereka, menawarkan sebungkus nasi berisi sepotong ayam goreng, daging rendang, dua ekor udang, sayur kuah, jeruk manis, serta air mineral. Tak hanya itu, dua kilogram minyak goreng, dua kilogram gula, satu kotak kurma, dan tiga botol sirup turut diberikan, cukup untuk meringankan kebutuhan dapur di pagi itu.

“Alhamdulillah, makasih banyak, Ibu. Pas sekali waktunya makan sahur,” ujar Tgk Irwadi, seorang tukang becak yang terlihat terkesima. Ia mengaku setiap malamnya bekerja mengumpulkan barang bekas untuk dimuat ke dalam becaknya sebelum dijual ke penampung.

Perjalanan berlanjut ke Pasar Peunayong, tempat pedagang kecil dan tukang becak lain masih berjibaku dengan waktu. Marlina kembali turun, menyapa, bertanya, mendengar cerita mereka, lalu memberikan makanan. Di bawah lampu jalan yang redup, wajah-wajah lelah itu menyiratkan rasa syukur yang tulus.

Jam semakin mendekati pukul lima pagi. Marlina kini telah melewati Bundaran Simpang Lima, Jembatan Pante Pirak, hingga ke kawasan Pasar Aceh. Ia menyusuri pusat pertokoan, menemui pedagang kios yang sedang menutup lapaknya, lalu membagikan sisa paket yang masih ada. Sesekali, ia bahkan menyetop becak dan pengendara roda dua yang kebetulan lewat, memberikan mereka satu porsi sahur.

Langkahnya akhirnya terhenti di halaman Masjid Raya Baiturrahman. Cahaya lampu masjid yang megah memantulkan siluet kelelahan yang tak indah. Di bawah menara utama, Marlina duduk, membuka kotak nasi terakhir yang tersisa. Semua telah terbagi.

“Alhamdulillah, semua sudah terbagi,” ucapnya pelan, sebelum perlahan mulai menyantap sahurnya sendiri dan mempersilakan orang-orang yang menemaninya ikut menyantap sahur bersama.

Dalam remang dini hari, 230 kotak nasi dan 200 paket sembako telah tersampaikan. Bukan sekadar makanan, tetapi juga penghangat hati bagi mereka yang menerimanya. Dan di sepertiga malam itu, di antara doa-doa yang mengudara, Marlina kembali menegaskan bahwa berbagi tak selalu harus megah—cukup dengan ketulusan, di waktu yang tepat, untuk orang-orang yang membutuhkan. []

Berita Terkait

Cegah Kegaduhan, Pemerintah Aceh Minta Pertamina Perbaiki Pelayanan SPBU
Pemerintah Aceh Telusuri Penyebab Kelangkaan Semen dan BBM
Jadi Role Model Nasional Layanan Transportasi Publik Gratis, Mualem Raih Transportasi Indonesia Award 2026
Sekda Aceh Buka Bimtek Penilaian Maladministrasi, Dorong Penguatan Kualitas Pelayanan Publik
Pemerintah Aceh Fasilitasi Peralihan RSUD Cut Meutia dari Aceh Utara ke Lhokseumawe
Wagub Aceh Safari ke Sejumlah Dayah, Perkuat Silaturahmi dengan Ulama
Sekda Nasir Tekankan Disiplin dan Kolaborasi ASN Setda Aceh
Aceh Masuki Fase Rehab-Rekon, Mendagri Tekankan Pentingnya Publikasi
Tag :

Berita Terkait

Senin, 3 Agustus 2026 - 19:49 WIB

Cegah Kegaduhan, Pemerintah Aceh Minta Pertamina Perbaiki Pelayanan SPBU

Kamis, 30 Juli 2026 - 20:48 WIB

Pemerintah Aceh Telusuri Penyebab Kelangkaan Semen dan BBM

Kamis, 30 Juli 2026 - 16:46 WIB

Jadi Role Model Nasional Layanan Transportasi Publik Gratis, Mualem Raih Transportasi Indonesia Award 2026

Rabu, 29 Juli 2026 - 20:31 WIB

Sekda Aceh Buka Bimtek Penilaian Maladministrasi, Dorong Penguatan Kualitas Pelayanan Publik

Rabu, 29 Juli 2026 - 17:57 WIB

Pemerintah Aceh Fasilitasi Peralihan RSUD Cut Meutia dari Aceh Utara ke Lhokseumawe

Rabu, 29 Juli 2026 - 17:08 WIB

Wagub Aceh Safari ke Sejumlah Dayah, Perkuat Silaturahmi dengan Ulama

Selasa, 28 Juli 2026 - 19:50 WIB

Sekda Nasir Tekankan Disiplin dan Kolaborasi ASN Setda Aceh

Selasa, 28 Juli 2026 - 19:44 WIB

Aceh Masuki Fase Rehab-Rekon, Mendagri Tekankan Pentingnya Publikasi

Berita Terbaru